Minggu, 24 Oktober 2010

PEMBUATAN ALAT EMERGENCY LAMP DENGAN MENGGUNAKAN LDR (Dasar Instrumentasi)

Kelompok  8 :

1.      Ikhsan Ashari                    C54080045
2.      Wahida Sutiyani Trisna     C54080046
3.      Ahmad Siroji                     C54080047
4.      Meilani Pamungkas           C54080048
5.      Aditya Hikmat Nugraha   C54080049


Di era globalisasi sekarang ini, semakin terbatasnya Sumber Daya Alam (SDA) terutama minyak bumi dan gas alam sebagai sumber energi menjadi penyebab dibatasinya pemakaian listrik di Indonesia. Meskipun sudah mulai dikembangkan berbagai sumber energi lain sebagai pembangkit listrik, konsumsi listrik oleh masyarakat yang tetap tinggi membuat sistem pemadaman listrik oleh PLN tetap berlangsung. Tidak jarang pemadaman tersebut terjadi tanpa bisa diduga kapan waktunya, sehingga hal tersebut cukup mengganggu aktivitas masyarakat. Pemadaman yang berlangsung pada malam hari membuat masyarakat membutuhkan alat penerangan dengan sumber energi selain listrik yang berasal dari PLN.
Semakin pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dapat dimanfaatkan dan dikembangkan untuk dapat membantu pekerjaan manusia sehingga dapat menyelesaikan pekerjaan dengan lebih mudah dan efesien. Oleh karena itu, adanya pembelajaran mengenai rangkaian elektronika dapat dijadikan dasar pengetahuan untuk membuat suatu alat yang bisa digunakan sebagai alternatif penanggulangan masalah yang timbul akibat pemadaman bergilir tersebut. Alat tersebut adalah berupa emergency lamp yang dapat menyala dengan menggunakan baterai atau aki sebagai sumber energinya.
Rangkaian pada emergency lamp tersebut adalah baterai, lampu (bisa lampu pijar, lampu rangkaian Light Emiting Dioda (LED) atau lampu TL), rangkaian pengisi baterai, sakelar untuk OFF, ON dan AUTO, relay dan rangkaian inverter jika lampu yang digunakan, adalah lampu TL. Rangkaian ini akan berfungsi sebagai penerangan yang akan menyala secara otomatis pada saat tegangan dari PLN padam. Jika tegangan dari listrik PLN menyala maka emergency lamp  tersebut akan padam juga secara otomatis. Saat listrik PLN hidup maka baterai yang kosong akan diisi oleh rangkaian pengisi baterai atau Battery Charger. Selanjutnya, rangkaian pengisi baterai yang bagus akan mengisi baterai dengan arus kejutan yang disebut sebagai Trickle. Berikutnya adalah ada sakelar OFF, ON dan AUTO. Saat sakelar di posisi ON, maka lampu, baik lampu pijar maupun lampu yang terdiri dari rangkaian beberapa LED atau lampu TL, akan menyala. Untuk lampu TL, agar bisa menyala maka harus ada rangkaian inverter. Saat sakelar di posisi AUTO maka ada relay yang saat listrik PLN hidup, relay akan mematikan lampu dan jika listrik PLN mati, maka relay akan menghidupkan lampu.

PEMANFAATAN SENSOR CAHAYA UNTUK PEMBUATAN IKAN ASAP (Dasar Instrumentasi)

Oleh: Kelompok 7
                            Anstayn Namberon Saragih            ( C54080017 )
                            Anma Hari Kusuma                        ( C54080042 )
                            Denny Ardly Wiguna                     ( C54080043 )
                            Nurlaela Herlinawati                       ( C54080060 )
                            Philmonsyanus Naro                       ( C54080083 )
                            Reffa Pythaloka                              ( C54080086 )

Semakin meningkatnya perkembangan teknologi saat ini, semakin membantu kepraktisan dalam kehidupan sehari-hari. Penerapan teknologi di bidang instrumentasi tentunya memberi manfaat besar bagi kemudahan kita dalam  melakukan berbagai aktifitas, mulai dari hal-hal yang mudah sampai hal yang rumit sekalipun.  Hampir di seluruh peralatan misalnya rumah tangga menggunakan prinsip elektronika. Hal ini menunjukkan  bahwa kehidupan kita tidak lepas dari perangkat elektronika dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Hal-hal diatasmembuat teknologi harus dikembangkan untuk mengikuti perkembangan dan bertambahnya kebutuhan kita akan teknologi. Penerapan elektronika  yang penggunaanya menerapkan prinsip sistem otomatis tidak akan lepas dengan apa yang disebut ”sensor”.  Oleh karena itu, pengembangan perangkat otomatis menggunakan sensor itu akan menarik perhatian.
Sensor cahaya dapat diaplikasikan dalam pembuatan alat-alat untuk membantu memenuhi kebutuhan. Salah satunya adalah sensor cahaya untuk alat pembuat ikan asap. Pada saat cahaya redup karena kekurangan asap dari bara, sensor berfungsi untuk menyalakan lampu yang menandakan bahwa kita harus menambah bara. Hal ini akan mempertahankan kuantitas asap dalam oven sehingga terkontrol untuk membuat ikan asap. Untuk itu, kami membuat alat dengan judul laporan PEMANFAATAN SENSOR CAHAYA (LDR) UNTUK PEMBUATAN IKAN ASAP”.

OTOMATISASI LAMPU BAGAN (Dasar Instrumentasi)

Kelompok 6
Dea Fauzia Lestari                  C54080013
Ahmad Hambali Bani Nuh     C54080019
Bagus Bastian                         C54080030
Rizki Hermawan                     C54080033
Niki Drupaditya G.                 C54080080
                                    Hakiki Riffatudin                   C54080085

Pada mulanya penggunaan lampu untuk penangkapan masih terbatas pada daerah-daerah tertentu dan umumnya dilakukan hanya di tepi-tepi pantai dengan menggunakan jaring pantai (beach seine), serok (scoop net) dan pancing (hand line). Pada tahun 1953 perkembangan penggunaan lampu untuk tujuan penangkapan ikan tumbuh dengan pesat bersamaan dengan perkembangan bagan (jaring angkat, lift net) untuk penangkapan ikan. Saat ini pemanfaatan lampu tidak hanya terbatas pada daerah pantai, tetapi juga dilakukan pada daerah lepas pantai yang penggunaannya disesuaikan dengan keadaan perairan seperti alat tangkap payang, purse seine dan sebagainya.
Penggunaan cahaya (lampu) untuk penangkapan ikan di Indonesia dan siapa yang memperkenalkannya belumlah jelas. Di daerah-daerah perikanan Indonesia Timur, khususnya yang terdapat usaha penangkapan cakalang dengan pole and line dilakukan sekitar tahun 1950 ditemukan kurang lebih 500 buah lampu petromaks yang digunakan untuk penangkapan, dimana tempat lain belum digunakan (Subani, 1983).
Penggunaan cahaya listrik dalam skala industri penangkapan ikan pertama kali dilakukan di Jepang pada tahun 1900 untuk menarik perhatian berbagai jenis ikan, kemudian berkembang dengan pesat setelah Perang Dunia II. Di Norwegia penggunaan lampu berkembang sejak tahun 1930 dan di Uni Soviet baru mulai digunakan pada tahun 1948.
Cahaya merupakan bagian yang fundamental dalam menentukan tingkah laku ikan di laut. Stimuli cahaya terhadap tingkah laku ikan sangat kompleks antara lain intensitas, sudut penyebaran, polarisasi, komposisi spektralnya dan lama penyinaran.
Biasanya pada bagan digunakan rumpon untuk mengalihkan perhatian dan mengumpulkan ikan. Namun pada penggunaanya, rumpon dinyalakan secara tidak otomatis karena masih mengandalkan bantuan manusia. Ide bagan bercahaya ini diharapkan dapat menciptakan alat yang otomatis dalam penyedian lampu sebagai alat penarik ikan sehingga penggunaanya lebih efektif dan efisien karena adanya bantuan sensor cahaya yang bekerja.

MINIATUR PENGEMBANGAN LAMPU SENJA UNTUK PEMUKIMAN DI PULAU TERPENCIL (Dasar Instrumentasi)

Oleh: Kelompok 5
Suhaidi                           (C54080016)
Hendra Gustiawan          (C54080020)
Sancha Sadewa               (C54080044)
Jihan Jemika Agustina    (C54080062)
Resty Winasti                  (C54080063)
Tony Ari Wibowo           (C54080078)

       Di era modern ini ilmu dan teknologi berkembang pesat dan beriringan. Ilmu pengetahuan dan teknologi ini dimanfaatkan dan dikembangkan oleh manusia untuk membantu pekerjaan mereka sehingga dapat menyelesaikan pekerjaan dengan lebih mudah dan efesien. Dengan adanya ilmu pengetahuan dan teknologi diciptakan beberapa peralatan yang memudahkan manusia dalam mennyelesaikan pekerjaan secara efisien. Sebenarnya intansi pendidikan di Indonesia dan negara lainnya telah menerapkan perkembangan iptek tersebut, salah satunya seperti adanya pembelajaran mengenai rangkaian elektronika pada jurusan teknikal diberbagai intansi pendidikan. Praktikum mengenai elektronika salah satunya adalah yang kami pelajari yaitu mengenal dan dapat merangkai beberapa komponen elektronik seperti sensor, op-am, potensiometer dan lain sebagainya. Namun, perkembangan ilmu dan teknologi tidak menyebar secara merata di Indonesia. Oleh karena itu, kami mencoba mengaplikasikan alat lampu senja dengan sensor cahaya untuk memberikan penerangan pada daerah-daerah yang kurang berkembang seperti pulau terpencil. Minimnya penerangan pada daerah pulau terpencil menjadi alasan bagi kelompok kami untuk menerapkan lampu senja ini sebagai salah satu teknologi yang berguna bagi masyarakat. Lampu senja merupakan teknologi sederhana yang memanfaatkan sensor cahaya untuk mengaktifkan lampu secara otomatis pada saat malam hari. Lampu senja ini diwujudkan dalam bentuk miniatur sebuah pulau terpencil sebagai penerangan. Pemukiman pada pulau terpencil perlu diadakan pembangunan berkelanjutan. Pengembangan teknologi yang ramah lingkungan merupakan dasar pembangunan. Pengembangan lampu senja merupakan salah satu wujud pembangunan pulau. Untuk mendapatkan gambaran mengenai cara kerja lampu senja ini, maka kami membuat miniatur lampu senja yang didesain dengan pemukiman yang mendukungnya.

Prototipe Alat Penangkap Ikan “Bubu” (Dasar Instrumentasi)

Kelompok 4
Herwi Rahmawitri                    C54080007
Winda Deviana Mistiasih         C54080009
Afwan Syaugy                         C54080035
Fahrulian                                   C54080038
Novianto Hari A.                      C54080082

Aplikasi dari instumentasi memudahkan setiap orang dalam setiap aktifitasnya. Salah contoh instrumentasi yaitu computer. Komputer membuat pekerjaan yang sulit pun dapat dikerjakan dengan mudah. Pada dasarnya komputer merupakan kumpulan-kumpulan dari komponen dasar elektronika yang disusun dan dirangkai sedemikian hingga.
            Beberapa contoh komponen dasar yang biasa digunakan dalam instrumentasi antara lain  resistor, kapasitor, Op-amp, sensor, relay dan lain-lain. Jika memiliki pengetahuan mengenai skematik rangkaian dan komponen-komponen apa saja yang diperlukan serta cara kerjanya pada rangkaian, kita dapat membuat suatu instrument sesuai dengan yang kita inginkan. Pembuatan alat yang disertai dengan otomatisasi tidak lepas dari sensor karena suatu sistem pengendali secara garis besar mempunyai prosedur dan rangkaian proses yang saling berkaitan.   Bermula dari proses perubahan yang ditangkap dan diolah oleh pengolah sinyal atau data yang kemudian diteruskan sebagai keluaran dari olah data dalam bentuk kondisi pengendalian.
            Prototipe bubu merupakan salah satu aplikasi yang bisa dibuat dengan menggunakan komponen dasar elektronika. Pembuatan alat ini memanfaatkan sensor cahaya yang bereaksi terhadap perubahan intensitas cahaya. Alat ini diharapkan dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari terutama bagi para nelayan sebagai penanda bahwa ada ikan yang terperangkap.

PROTOTIPE LAMPU MERCUSUAR (Dasar Instrumentasi)

Kelompok 3

Nisa Nisvia Marsya                             C54080005
Lovedrian Ariston                               C54080018
A.A. Gede Wirapramana                               C54080021
Dwi Setiadi Firmansyah                     C54080051
Umi Kalsum Madaul                           C54080093


Mercusuar adalah sebuah bangunan menara dengan sumber cahaya di puncaknya untuk membantu navigasi kapal laut. Sumber cahaya yang digunakan beragam mulai dari lampu sampai lensa dan (pada zaman dahulu) api. Mercusuar biasanya digunakan untuk menandai daerah-daerah yang berbahaya, misalnya karang dan daerah laut yang dangkal. Meskipun dewasa ini mercusuar jarang digunakan dikarenakan munculnya GPS, namun keberadaan bangunan ini merupakan hal yang sangat penting bagi para pelaut agar dapat kembali ke daratan dengan selamat.
Pada projek kali ini rangkaian yang akan dirangkai berupa mercusuar dalam bentuk prototipe yang memanfaatkan sensor cahaya yang berupa LDR ( Light Dependent Resistor). Pemanfaatan sensor cahaya sebagai pemicu dalam menyalakan lampu pada mercusuar memiliki beberapa keuntungan dilihat dari berbagai aspek diantaranya perlunya penghematan energi dewasa ini karena pada umumnya lampu yang digunakan pada mercusuar menggunakan voltase yang tinggi pada saat pertama kali dinyalakan juga dapat meminimalisir usaha penjaga mercusuar dalam menyalakan lampu pada waktu yang diperlukan.
Perlunya alat pemberi tanda yang bekerja secara otomotatis untuk memudahkan kegiatan manusia sehari-hari merupakan aspek yang menjadi faktor munculnya ide pembuatan prototipe mercusuar. Prototipe adalah bentuk awal (contoh) atau standar ukuran dari sebuah entitas. Dalam bidang desain, sebuah prototipe dibuat sebelum dikembangkan atau justru dibuat khusus untuk pengembangan sebelum dibuat dalam skala sebenarnya atau sebelum diproduksi. Sistem kerja dari alat ini adalah memanfaatkan intensitas cahaya untuk menyalakan lampu. Intensitas cahaya yang diterima akan mempengaruhi kinerja komponen didalamnya. Hal ini dapat dijabarkan dengan kinerja sensor cahaya yang berada di dalam komponen yang mendukung alat ini untuk memanfaatkan intensitas cahaya yang diterima untuk mengalirkan arus ke lampu sehingga lampu dapat menyala. Salah satu komponen utama dalam saklar senja adalah sensor cahaya yang berfungsi untuk mendeteksi cahaya yang ada di sekitar kita.  Sensor yang terkenal untuk mendeteksi cahaya ialah LDR(Light Dependent Resistor).  Sensor ini akan berubah nilai hambatannya apabila ada perubahan tingkat kecerahan cahaya.
Resistansi LDR berubah seiring dengan perubahan intensitas cahaya yang mengenainya. LDR terbuat dari bahan semikonduktor seperti kadmium sulfida. Dengan bahan ini energi dari cahaya yang jatuh akan mempengaruhi banyak atau sedikitnya muatan yang dilepas atau arus listrik ke dalam komponen . Artinya resistansi bahan telah mengalami perubahan. Namun perlu juga diingat bahwa respon dari rangkaian ini akan sangat tergantung pada nilai LDR yang digunakan. Perubahan nilai hambatan pada LDR tersebut akan menyebabkan perubahan beda tegangan pada input basis transistor, sehingga akan mengaktif/nonaktifkan transistor. 

OCTOTRAP (Trap Gurita) (Dasar Instrumentasi)

     Oleh kelompok 2:
Tegar Hutomo P        (C54080023)
Nurhidayah S             (C54080002)
Arif Baswantara        (C54080027)
M. Bahrun Rohadi    (C54080076)
Samsu Nur Pratomo  (C54080072)
La Elson                    (C44094001)

Saat ini alat untuk menangkap gurita yang umum digunakan adalah alat tangkap clay pots (kendi tanah liat), tombak, dan trap (perangkap). Clay pots dan trap tidak banyak digunakan oleh nelayan di Indonesia (DKP.1999), dikarenakan kompleksitas di dalam operasi penangkapan. Alat tangkap tombak yang banyak digunakan. Namun kendalanya adalah harus menyelam dengan cara memasukan tombak/pengait ke lubang-lubang karang sehingga tidak sedikit karang yang rusak
Biasanya bubu juga digunakan untuk menangkap gurita ini, tetapi kurang efektif karena gurita yang sudah terperangkap dapat keluar lagi sehingga pekerjaan hanya sia-sia. Selain itu bubu juga dioperasikannya pada malam hari, sehingga kurang efektif dalam pengoperasian,  pada tugas akhir ini praktikan membuat alat yang lebih efektif yaitu gurita trap.
Dalam pembuatan gurita trap ini, menggunakan cahaya untuk menarik gurita agar masuk ke dalam trap( perangkap) , alat ini dapat dibiarkan saat dioperasikan pada malam hari, sehinggia operator tidak perlu menunggu sehingga lebih efektif dalam pengoperasiannya. Gurita trap ini juga memeliki sistem penutupan( perangkap) secara otomatis dapat tertutup sehingga gurita tidak mudah keluar dari perangkap.
Tidak seperti halnya,  tombak yang biasa digunakan nelayan dalam menangkap gurita, dengan kendalanya adalah nelayan  harus menyelam dengan cara memasukan tombak/pengait ke lubang-lubang karang sehingga tidak sedikit karang yang rusak.

Alat Pendeteksi Banjir (Dasar Instrumentasi)

Oleh Kelompok 1:

Ahmad Ridho                  C54080003
I Gede Mahendra W       C54080004
Priagung Wicaksono        C54080006
Veronica Stella A. L        C54080014
Sri Hadianti                     C54080039
Iwan Adi                         C54080073









Indonesia merupakan negara dengan kawasan perairan dengan gugusan perairan yang paling luas. Sebagian besar perubahan iklim yang terjadi di Indonesia dipengaruhi oleh fase perubahan kondisi yang terjadi di lautan. Semakin tinggi suhu lingkunga, umumnya tingkat evaporasi yang tinggi pula. Sehingga mengakibatkan intensitas air di wilayah daratan pun besar dengan hujan yang terbilang tinggi. Perubahan cuaca yang kian tidak menentu mengakibatkan sering terjadinya perubahan kondisi lingkungan secara tiba-tiba. Fenomena alam ini terjadi tiap saat. Seperti misalnya di tengah musim kemarau, hujan tetap turun dengan derasnya. Cuaca menjadi tidak dapat diprediksi. Hal ini mengakibatkan banyak daerah-daerah di Indonesia, seperti Jakarta mengalami banjir secara berkala. Hal ini dapat terjadi ketika di manapun dan kapanpun. Di saat malam atau pagi, atau bahkan di saat anda tidur kemudian terbangun, setelah menapakkan kaki ternyata yang ada injak bukanlah lantai melainkan air.
Atas dasar hal tersebut maka pencegahan banjir seperti ini harus diantisipasi secara lebih awal. Salah satu inovasi yang kami perkenalkan ialah bagaimana caranya mengantisipasi semua kemungkinan ini agar bahaya banjir yang terjadi secara tiba-tiba dapat diatasi lebih awal untuk mengurangi semua kemungkinan fatal yang akan terjadi. Salah satunya ialah menggunakan detector banjir yang diaplikasikan dalam skala rumahan yang efisiensi biaya dan merupakan terapan teknologi.
Alat pendeteksi banjir ini dapat diaplikasikan di dalam rumah-rumah yang lingkungannya sering mengalami banjir agar dapat menghadapi bencana banjir secara lebih dini. Misalnya jika hujan mulai turun dengan deras, maka sensor ini dapat diaktifkan untuk mendeteksi jika terjadi banjir, dan air telah mencapai ketinggian tertentu. Maka sistem sensor dari alat ini akan tersimulasi dengan buzzer yang akan memberikan reaksi berupa suara yang akan dihasilkan. 

1.1      Hasil
Setelah alat pendeteksi banjir ini dibuat, didapatkan hasil sebagai berikut:
Keadaan
Tegangan (V)
Kaki 3
Kaki 2
Kaki 6
Terang
11.64
11.61
-10.01
Gelap
11.62
11.83
10.71

1.2     Pembahasan
Pada saat  terang, pada op amp tegangan pada kaki 3 (non inverting) lebih kecil dari kaki 2 (inverting) maka tegangan keluaran pada kaki 6 bernilai negatif.  Sebaliknya pada saat gelap, pada op amp tegangan pada kaki 3 lebih besar dari kaki 2 maka tegangan keluaran pada kaki 6 bernilai positif. Pada dasarnya, rangkaian ini telah bekerja dengan baik karena kaki-kaki op-amp bekerja dengan baik. Walaupun rangkaian ini telah berjalan dengan baik, ternyata baelum mampu untuk menghidupkan alarm. Tegangan yang dikeluarkan lebih besar dari inputnya, namun tegangan ini belum cukup kuat untuk menghidupkan alarm, sehingga alat kurang bekerja dengan maksimal. Kelebihan alat ini dapat berguna bagi masyarakat karena harganya terjangkau. Sedangkan kekurangan dari alat ini yaitu belum dapat digunakan pada malam hari.